Select Page
Tulungagung, KPM Segara
Mungkin masih banyak yang belum tahu tentang kopi alternatif: Kopi Mangrove Segara. Belakangan ini memang banyak yang bertanya kepada saya latar belakang munculnya ide usaha berbasis pemberdayaan pesisir kopi mangrove segara. Baiklah, saya akan mencoba sedikit bercerita tentang latar belakang bagaimana kopi mangrove ini tercetus. Untuk mengawali cerita ini, alangkah baiknya kalau saya memulai dengan memperkenalkan latar belakang diri saya terlebih dahulu. Saya tinggal di kecamatan pesisir Tulungagung, kecamatan Kalidawir. Rumah saya terletak 7 – 11 km dari pesisir pantai Sine, desa Kalibatur, kec. Kalidawir yang menghadap langsung samudera Hindia.
Latar belakang saya yang tinggal berdekatan dengan pesisir membuat saya memutuskan untuk kuliah S-1 mengambil jurusan Ilmu Kelautan di Universitas Brawijaya, Malang. Saya masuk kuliah tahun 2012 dan mendalami bidang manajemen dan pengembangan wilayah pesisir. Dari proses saya kuliah itu, saya banyak bersinggungan dan mendapatkan materi tentang mangrove atau tanaman bakau khas pesisir. Saya terlibat beberapa proyek penelitian dan pengembangan kawasan mangrove yang notabennya cenderung ke arah ekowisata bahari. Dengan bermodalkan pengalaman dan sedikit pengetahuan riset di bidang mangrove, saya mencoba untuk mengembangkan potensi mangrove. Hingga saya terbesit untuk membuat sebuah produk pemberdayaan dengan melibatkan masyarakat dalam bentuk sosial bisnis.
Di sisi lain, isu lingkungan dan ekosistem pesisir menjadi isu yang sangat seksi di mata saya. Degradasi mangrove Indonesia telah menuju tahap mengkhawatirkan. Dalam tiga dekade terakhir, hutan mangrove Indonesia menyusut 30 – 50% (Donato et al., 2012). Hal ini membuat saya tergerak paling tidak mengapilkasikan ilmu yang saya dapat selama kuliah untuk merestorasi dan mengonservasi hutan mangrove Indonesia khususnya Tulungagung.
Proses untuk restoasi dan konservasi mangrove tidak semudah yang dibayangkan! Untuk menggapai secara maksimal, kita harus melibatkan masyarakat dalam upaya restorasi dan konservasi. Peran serta masyarakat menjadi kunci kesuksesan yang menjadi titik vital. Akan tetapi, masyarakatpun masih akan berpikir berkali-kali untuk terlibat aksi sosial seperti itu mengingat masyarakat lebih memilih bekerja di ladang sehingga bisa makan daripada aksi sosial yang tidak menghasilkan nominal. Oleh karena itu, mau tidak mau kegiatan sosial restorasi dan konservasi harus bisa mendatangkan nilai ekonomi. Perlu adanya penciptaan peluang untuk bisa mendongkrak income masyarakat sehingga menarik minat. Sempat terpikir untuk menjadikan kawasan ekowisata, akan tetapi, jelas butuh waktu yang relatif lebih lama dan proses yang cukup panjang. Dan setelah melalui beberapa pertimbangan, munculah ide diversifikasi produk olahan pesisir.
Konsideran untuk menjadi produk kopi tercetus dari latar belakang kota saya tinggal. Iya Tulungagung. Tulungagung terkenal dengan kearifan kopi, ngopi, dan nyethe. Masyarakat Tulungagung tidak terpisahkan dari kebiasaan ngopi dan nongkrong di warung kopi. Dari kearifan lokal tersebut, jelas peminat kopi di Tulungagung sangat tinggal dan merupakan peluang tersendiri untuk bisnis.
Dari berbagai buah pikiran tersebut, mangrove yang awalnya hanya dipandang sebelah mata untuk ekologi kini menjadi sebuah aset yang mampu memberikan nilai ekonomi. Masyarakat yang dulu enggan menanam mangrove dan cenderung menebangnya kini mulai berbondong-bondong melestarikan mangrove. Iya, itulah tujuan utama Kopi Mangrove Segara di bawah organisasi gerakan sosial KPM Segara (Kelompok Pelestari Mangrove Segara). Sosial bisnis ini memfokuskan diri pada pengembangan 3 aspek pada pesisir:
1. Ekologi
Agenda restorasi dan konsevasi hutan mangrove menjdi tujuan utama. Perluasan hutan mangrove untuk melindungi pesisir secara ekologi. Semakin luas mangrove yang direstorasi, maka dampak ekologi yang didapat juga akan semakin  besar
2. Sosial
Aspek sosial menegang peranan kunci. Aspek sosial pendekatan terhadap masyarakat melalui konsep civic engagement berdasar kearifan lokal masyarakat yang ada. Kopi menjadi pendekatan sosial berdasar kearifan lokal yang ada di Tulungagung
3. Ekonomi
Dampak ekonomi memberikan masyarakat feedback berupa nominal yang didapat dari hasil penjualan. Hasil profit yang didapat sebagian digunakan untuk membiayai pelaksanaan program restorasi-konservasi seperti akomodasi dll, Selain itu juga digunakan untuk menambah penghasilan masyarakat.
Pada implementasinya, kopi mangrove segara masih harus banyak berbenah. Kami sangat terbuka dengan kritik, saran, dan tanggapan dari berbagai pihak untuk perbaikan kedepan. Dan tidak lupa, kami juga sangat terbuka kepada relawan untuk terlibat dalam proyek sosial ini. Besar harapan sosial bisnis ini mampu memberikan dampak positif multi dimensi kepada masyarat.